Sabtu, 04 Mei 2024

Sungguh Tak Diduga

 

Sore itu, ku ajak anak istriku untuk jalan-jalan ke Dramaga dengan tujuan gang Haji Abbas. “Mi kita cari rumah Pak Nandar yuk. Waktu itu pernah ketemu beliau di dekat ATM depan Rumah Sakit Dramaga. Kayaknya rumah di sekitar itu deh. Soalnya dia penah bilan ke Abi dulu kalau rumahnya di Jalan Haji Abbas,” usulku kepada istriku di kamis ba’da ashar itu.

“Yah...abi mah nebak-nebak aja. Ntar gimana. Masa iseng-iseng gitu,” jawab istriku.

“Tenang aja Mi. Abi yakin rumahnya pasti di sekitar itu,” kataku dengan percaya diri.

Istriku pun akhirnya menyetujui dan berangkatlah kami berempat untuk jalan-jalan sore (JJS) sekalian. Jalan Raya Ciherang pun kami lalaui sampai di pertigaan Caringin kemudian belok kiri ke Jalan Raya Dramaga. Samping Alfamart ku ambil kiri dan gas motor pun ku tarik dengan santai.

Saat melewati sebuah perumahan, aku berujar, “Kayaknya bukan di sini Umi rumahnya. Sepertinya terus ke sana.”

“Ya udah, terus aja,” kata istriku.

Lanjutlah perjalanan kami, sampai beberapa meter ku beranikan diri tuk bertanya pada seorang bapak yang ada di warung.

“Pak, punten mau nanya. Tahu rumahnya Pak Nandar gak ya? Yang kerjanya di Bintang Pelajar. Yang jidatnya lebar,” kataku.

“Oh yang suka pake motor supra ya. Coba Bapak terus ke sana nanti belok kanan. Pas di warung coba tanya di situ nanti,” jawab bapak yang sedang nongkrong tersebut.

“Oh gitu Pak, makasih ya,” ucapku padanya.

Kami pun melaju sampai di sebuah warung dan menanyakan lokasi rumah Pak SDM Bintang Pelajar tersebut kepada seorang ibu. Jawaban yang kami dapatkan yakni menyuruh kami terus saja ke depan hingga ketemu rumah bagus-bertingkat, lalu kami disarankannya masuk ke gang yang ada di samping rumah tersebut.

Ketika kamu jumpai rumah yang dimaksud, aku pun memarkirkan motor sejenak di depannya untuk bertanya kembali. Benar ternyata, rumah Abi Nandar kata masyarakat sekitar itu menyebutnya di dalam gang tersebut. Lurus dikit, ada jejeran kontrakan ada rumah paling pojok.

Alhamdulillah, ketemu sudah baitnya orang kepercayaan owner Bintang Pelajar itu. Lega sudah hati kami berempat.

“Assalamu’alaikum,” ucapku dengan mengetok pintu rumahnya.

“Wa’alaikumussalam. Pa kabar Mas muis?” Tanya Pak Nandar dengan senyum ceria di tengah salaman erat.

“Alhamdulillah baik Pak. Antum gimana kabarnya?” Tanyaku balik.

“Alhamdulillah. Ayo masuk Mas”jawabnya.

“Ya Pak,”ujarku sambil ke rumahnya.

Aku pun duduk di sofanya di ruang tamu, sedangkan anak-istriku duduk di ruang tengah bersama dengan anak-bininya juga. Tak lama, suguhan makanan tradisional berbahan dasar singkong dihidangkan kepada kami ditemani dengan teh manis.

“Gini aja Mas Muis makanan di rumah saya. Saya paling suka makanan ini.” ucap Pak Nandar.

“Oh gitu ya Pak. Masyaallah ya, lebih sehat berarti makanan antum sekeluarga,” pujiku.

“Saya kurang kenal sama makanan-makanan modern Mas,” lanjutnya.

“Bagus itu Pak. Sudah lama banget saya gak makan makanan kayak gini. Waktu kecil dulu di kampung mah sering Pak,” jelasku.

Aku pun menikmati kue-kue singkong tersebut. Ada yang dibalut gula merah dengan bungkusan daun pisang. Ada pula yang ditabur parutan kelapa di atasnya. Seneng juga rasanya bisa ketemu cemilan sehat begini. Teh manis pun ku seruput dengan nikmat.

“Sekarang antum di SMA Bintang Pelajar ya Pak tugasnya?” Tanyaku untuk menyelidiki.

“Iya, saya bagian SDM-nya Mas,” jawabnya.

“Pak Syamsul ngajar Bahasa Indonesia kan di situ Pak?” Lanjutku menanyakan rekanku di BP Tangeran dulu.

“Iya, dia juga wakasek (wakil kepala sekolah) di sana,” lanjutnya menjelaskan.

“Masyaallah, hebat juga ya. Sudah banyak ya muridnya Pak?” Tanyaku.

“Ya, alhamdulillah. Tapi belum tercapai target memang,” lanjutnya.

“Di situ kan ada Sekolah Islam Terpadu At-Taufiq, apa gak terganggu dia Pak dengan keberadaan BP?”Tanyaku sok menyelidiki.

“Sebenarnya gak perlu merasa terganggu, kan beda pasaran,” terang Pak Nandar singkat.

Dengan rasa jantung deg-degan, aku pun memberikan diri untuk mengungkapkan maksud kedatanganku ke rumahnya.

“Pak, gini sebenarnya saya ada perlu sama antum. Saya sudah ngelamar ke BP untuk jadi GHL (Guru Honor Lepas). Saya sudah kirim ke Pak Adrian KR (Kepala Regional) wilayah Bogor, ke Pak Imam QCR (Quality Control Regional), dan ke Mas Erick selaku pihak SDM. Akan tetapi, kata mereka lamaran saya ditolak sama SDM sekarang karena ada catatan kinerja dulu ke kurang bagus,” ulasku dengan gerogi.

“Catatan kinerja gimana maksudnya?” Tanya Pak Nandar balik.

“Itu Pak, katanya dulu saya ada catatan kurang bagus kinerjanya,” jelasku lagi.

Pak Nandar pun sepertinya langsung paham maksudku karena dialah yang paling tahu akan catatan kebaikan maupun keburukan seluruh pegawai BP terutama para guru.

Azan maghrib pun memanggil. Kami pun menghentikan obrolan kami untuk memenuhi seruan agung itu. Supra-X yang biasa dipakainya beraktivitas pun dikeluarkan dari garasi untuk selanjutnya membawa kami berdua plus putranya ke masjid.

Tak butuh waktu lama tibalah kami di rumah Allah. Kendaraan pun diparkirkan di tempatnya lalu kami pun berwudu. Selesai itu kami memasuki tempat suci ini dan iqomat pun dikumandangkan.

Ramainya jama’ah terdiri dari berbagai kalangana : pria, wanita, dan anak-anak. Suasana khidmat shalat maghrib begitu terasa.

Usai zikir dan shalat rawatib dua rakaat kami pulang. Ku lanjutkan menyantap kue sajiannya sambil bercakap ringan. Sementara kedua anakku bolak-balik ruang tamu-ruang tengah, lari-larian, bercanda, serta membuat gaduh.

Di ruang tengah, terdengar riuh ternyata anak pertamaku Hana pub di celana. Hatiku jadi gelisah dan wajahku jadi malu kepada tuan rumah walaupun sebenarnya tidak apa-apa dan mereka memakluminya.

Istriku pun jadi sibuk dibuatnya sedangkan aku megang Royan untuk sementara agar ia tidak ke kamar mandi. Dengan kebaikan sang istri Pak Nandar, anakku diberikan celanan buat salin. Sungguh telah membuat hati kami kagum dan ucapan maaf karena telah merepotkan.

Menjelang isya aku sekeluarga pun pamit pulang. Aku berharap silaturrahmiku dengan Pak Nandar mendapat keberkahan dari Allah. Dan aku juga berharap dan optimis bahwa aku akan diterima di BP jadi GHL sehingga akan menjadi tambahan penghasilanku.

Rasa senang yang berkecamuk luar biasa di dalam dadaku ketika perjalanan pulang. Pun dengan istriku, rasa gembiranya turut terpancar dari wajahnya dengan harapan sebentar lagi kesusahan ekonomi keluarga akan sedikit terbantu. Hanya tinggal menghitung hari aku akan mendapat pekerjaan tambahan. Ingin seperti dulu lagi memiliki uang yang cukup lumayan. Ingin seperti di kala itu, saldo tabungan bisa merangkak naik walau sedikit-sedikit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar