Sore
itu, ku ajak anak istriku untuk jalan-jalan ke Dramaga dengan tujuan gang Haji
Abbas. “Mi kita cari rumah Pak Nandar yuk. Waktu itu pernah ketemu beliau di
dekat ATM depan Rumah Sakit Dramaga. Kayaknya rumah di sekitar itu deh. Soalnya
dia penah bilan ke Abi dulu kalau rumahnya di Jalan Haji Abbas,” usulku kepada
istriku di kamis ba’da ashar itu.
“Yah...abi
mah nebak-nebak aja. Ntar gimana. Masa iseng-iseng gitu,” jawab istriku.
“Tenang
aja Mi. Abi yakin rumahnya pasti di sekitar itu,” kataku dengan percaya diri.
Istriku
pun akhirnya menyetujui dan berangkatlah kami berempat untuk jalan-jalan sore
(JJS) sekalian. Jalan Raya Ciherang pun kami lalaui sampai di pertigaan
Caringin kemudian belok kiri ke Jalan Raya Dramaga. Samping Alfamart ku ambil
kiri dan gas motor pun ku tarik dengan santai.
Saat
melewati sebuah perumahan, aku berujar, “Kayaknya bukan di sini Umi rumahnya.
Sepertinya terus ke sana.”
“Ya
udah, terus aja,” kata istriku.
Lanjutlah
perjalanan kami, sampai beberapa meter ku beranikan diri tuk bertanya pada
seorang bapak yang ada di warung.
“Pak,
punten mau nanya. Tahu rumahnya Pak Nandar gak ya? Yang kerjanya di Bintang
Pelajar. Yang jidatnya lebar,” kataku.
“Oh
yang suka pake motor supra ya. Coba Bapak terus ke sana nanti belok kanan. Pas
di warung coba tanya di situ nanti,” jawab bapak yang sedang nongkrong
tersebut.
“Oh
gitu Pak, makasih ya,” ucapku padanya.
Kami
pun melaju sampai di sebuah warung dan menanyakan lokasi rumah Pak SDM Bintang
Pelajar tersebut kepada seorang ibu. Jawaban yang kami dapatkan yakni menyuruh
kami terus saja ke depan hingga ketemu rumah bagus-bertingkat, lalu kami
disarankannya masuk ke gang yang ada di samping rumah tersebut.
Ketika
kamu jumpai rumah yang dimaksud, aku pun memarkirkan motor sejenak di depannya
untuk bertanya kembali. Benar ternyata, rumah Abi Nandar kata masyarakat
sekitar itu menyebutnya di dalam gang tersebut. Lurus dikit, ada jejeran
kontrakan ada rumah paling pojok.
Alhamdulillah,
ketemu sudah baitnya orang kepercayaan owner Bintang Pelajar itu. Lega sudah
hati kami berempat.
“Assalamu’alaikum,”
ucapku dengan mengetok pintu rumahnya.
“Wa’alaikumussalam.
Pa kabar Mas muis?” Tanya Pak Nandar dengan senyum ceria di tengah salaman erat.
“Alhamdulillah
baik Pak. Antum gimana kabarnya?” Tanyaku balik.
“Alhamdulillah.
Ayo masuk Mas”jawabnya.
“Ya
Pak,”ujarku sambil ke rumahnya.
Aku
pun duduk di sofanya di ruang tamu, sedangkan anak-istriku duduk di ruang
tengah bersama dengan anak-bininya juga. Tak lama, suguhan makanan tradisional
berbahan dasar singkong dihidangkan kepada kami ditemani dengan teh manis.
“Gini
aja Mas Muis makanan di rumah saya. Saya paling suka makanan ini.” ucap Pak
Nandar.
“Oh
gitu ya Pak. Masyaallah ya, lebih sehat berarti makanan antum sekeluarga,”
pujiku.
“Saya
kurang kenal sama makanan-makanan modern Mas,” lanjutnya.
“Bagus
itu Pak. Sudah lama banget saya gak makan makanan kayak gini. Waktu kecil dulu
di kampung mah sering Pak,” jelasku.
Aku
pun menikmati kue-kue singkong tersebut. Ada yang dibalut gula merah dengan
bungkusan daun pisang. Ada pula yang ditabur parutan kelapa di atasnya. Seneng
juga rasanya bisa ketemu cemilan sehat begini. Teh manis pun ku seruput dengan
nikmat.
“Sekarang
antum di SMA Bintang Pelajar ya Pak tugasnya?” Tanyaku untuk menyelidiki.
“Iya,
saya bagian SDM-nya Mas,” jawabnya.
“Pak
Syamsul ngajar Bahasa Indonesia kan di situ Pak?” Lanjutku menanyakan rekanku
di BP Tangeran dulu.
“Iya,
dia juga wakasek (wakil kepala sekolah) di sana,” lanjutnya menjelaskan.
“Masyaallah,
hebat juga ya. Sudah banyak ya muridnya Pak?” Tanyaku.
“Ya,
alhamdulillah. Tapi belum tercapai target memang,” lanjutnya.
“Di
situ kan ada Sekolah Islam Terpadu At-Taufiq, apa gak terganggu dia Pak dengan
keberadaan BP?”Tanyaku sok menyelidiki.
“Sebenarnya
gak perlu merasa terganggu, kan beda pasaran,” terang Pak Nandar singkat.
Dengan
rasa jantung deg-degan, aku pun memberikan diri untuk mengungkapkan maksud
kedatanganku ke rumahnya.
“Pak,
gini sebenarnya saya ada perlu sama antum. Saya sudah ngelamar ke BP untuk jadi
GHL (Guru Honor Lepas). Saya sudah kirim ke Pak Adrian KR (Kepala Regional)
wilayah Bogor, ke Pak Imam QCR (Quality Control Regional), dan ke Mas Erick
selaku pihak SDM. Akan tetapi, kata mereka lamaran saya ditolak sama SDM
sekarang karena ada catatan kinerja dulu ke kurang bagus,” ulasku dengan
gerogi.
“Catatan
kinerja gimana maksudnya?” Tanya Pak Nandar balik.
“Itu
Pak, katanya dulu saya ada catatan kurang bagus kinerjanya,” jelasku lagi.
Pak
Nandar pun sepertinya langsung paham maksudku karena dialah yang paling tahu
akan catatan kebaikan maupun keburukan seluruh pegawai BP terutama para guru.
Azan
maghrib pun memanggil. Kami pun menghentikan obrolan kami untuk memenuhi seruan
agung itu. Supra-X yang biasa dipakainya beraktivitas pun dikeluarkan dari
garasi untuk selanjutnya membawa kami berdua plus putranya ke masjid.
Tak
butuh waktu lama tibalah kami di rumah Allah. Kendaraan pun diparkirkan di
tempatnya lalu kami pun berwudu. Selesai itu kami memasuki tempat suci ini dan
iqomat pun dikumandangkan.
Ramainya
jama’ah terdiri dari berbagai kalangana : pria, wanita, dan anak-anak. Suasana
khidmat shalat maghrib begitu terasa.
Usai
zikir dan shalat rawatib dua rakaat kami pulang. Ku lanjutkan menyantap kue
sajiannya sambil bercakap ringan. Sementara kedua anakku bolak-balik ruang
tamu-ruang tengah, lari-larian, bercanda, serta membuat gaduh.
Di
ruang tengah, terdengar riuh ternyata anak pertamaku Hana pub di celana. Hatiku
jadi gelisah dan wajahku jadi malu kepada tuan rumah walaupun sebenarnya tidak
apa-apa dan mereka memakluminya.
Istriku
pun jadi sibuk dibuatnya sedangkan aku megang Royan untuk sementara agar ia
tidak ke kamar mandi. Dengan kebaikan sang istri Pak Nandar, anakku diberikan
celanan buat salin. Sungguh telah membuat hati kami kagum dan ucapan maaf
karena telah merepotkan.
Menjelang
isya aku sekeluarga pun pamit pulang. Aku berharap silaturrahmiku dengan Pak
Nandar mendapat keberkahan dari Allah. Dan aku juga berharap dan optimis bahwa
aku akan diterima di BP jadi GHL sehingga akan menjadi tambahan penghasilanku.
Rasa
senang yang berkecamuk luar biasa di dalam dadaku ketika perjalanan pulang. Pun
dengan istriku, rasa gembiranya turut terpancar dari wajahnya dengan harapan
sebentar lagi kesusahan ekonomi keluarga akan sedikit terbantu. Hanya tinggal
menghitung hari aku akan mendapat pekerjaan tambahan. Ingin seperti dulu lagi
memiliki uang yang cukup lumayan. Ingin seperti di kala itu, saldo tabungan
bisa merangkak naik walau sedikit-sedikit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar