Malam itu ku lumayan gelisah. Bagaimana tidak,
pertama kalinya besok harus pergi ke Bandung. Sebuah kota yang sangat jauh dari
tempat kelahiranku, Lampung. Rasa gembira, deg-degan, dan sedih bercampur jadi
satu. Gembira karena aku akan kuliah. Deg-degan karena aku takut nyasar. Dan
sedih karena ku akan berpisah dari orang tua dan sanak-saudaraku.
Tidur setengah nyenyak mungkin itulah kata yang
tepat. Sedikit-sedikit bangun melihat jam dinding berdetak. Ternyata masih
tengah malam. Bangkit lagi dari tidur, masih pukul 2.00 ternyata. Ku pejamkan
mata kembali. Dan kali ini berhasil. Mungkin karena udara Kota Bekasi sudah
mulai dingin ditambah lagi kipas angin ruangan yang akhirnya menyebabkanku
tidur pulas.
“Kukuruyuk...kukuruyuk....kukuruyuk....” alarm
bernada ayam pun berbunyi.
Tidur nyenyakku berakhir sudah. Ku terduduk
sejenak sambil membaca doa bangun tidur. Segera ku lipat selimut yang ku pakai
dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih sekalian berwudu.
Lalu ku ambil sajadah tebal berwarna coklat
dengan motif masjid agung. Ku hamparkan di lantai. Mumpung masih ada sekitar
lima menit untuk shalat witir satu rakaat pikirku.
Sesaat kemudian berkumandanglah suara azan,
“Allahu Akbar...Allahu Akbar...”
Untung saja sudah kelar qiyamul lailku,
alhamdulillah. Ku ayunkan langkah kakiku menuju musola terdekat melewati jalan
satu mobil. Angin fajar nan sejuk turut menambah semangatku. Suasana hening
karena masih minimnya kendaraan jalanan membuat khusyu’ jamaah yang shalat.
Kewajiban usai, aku pun kembali ke rumah
saudariku. Ku hitung-hitung kembali uang daftar ulang kuliah yang akan ku bawa.
Jangan sampai ketinggalan sepeser pun agar tidak fatal akibatnya. Ku masukkan
kembali lembaran berharga di tempat yang rapi dan aman.
“Uangnya masukkan ke kantong celana bagian depan.
Biar aman” perintah kakakku.
“Iya Kak...,” jawabku.
“Sana sarapan dulu biar gak masuk angin. Soalnya
jauh tu Cikarang-Bandung,” kata saudariku.
“Iya. Bentar lagi nih beres,” jawabku sambil mengemasi tas dan
kardus.
Nasi yang telah terhidang beserta lauk-pauknya ku santap dengan
lahap. Begitu pula teh hangat manis sebagai penutupnya. Penting sekali mengisi
perut sebelum beraktivitas agar semua berjalan dengan lancar.
Setelah yakin perutku ku kenyang, aku pun berpamitan kepada
saudariku. “Mba, berangkat ya.”
“Ya udah hati-hati di jalan ya Is. Jangan lupa kalau sudah sampai
Bandung, kasih kabar ke saya,” pesannya kepadaku.
“Assalamu’alaikum,” kataku pada saudariku.
“Wa’alaikumussalam,” jawabnya.
Berangkatlah daku ke depan gang dengan membawa kardus, tasa, serta
kresek yang isinya bekal-bekal untuk hidup di Bandung kelak. Ku tunggu angkot
36 yang akan menuju terminal. Tak perlu menunggu waktu lama ternyata. Ku setop
dengan tangan kiriku, dan abang sopir pun menghentikan laju kendaraan
mungilnya.
Melajulah kendaraan yang ku tumpangi. Ku lihat banyak karyawan
pabrik berseragam yang semobil bersamaku. Sepertinya sudah tradisi mereka harus
angkat kaki dari rumah sebelum mentari menampakkan wujudnya. Untuk menghidupi
keluarganya serta merubah nasib, mereka harus rela mengarungi kerasnya hidup di
kotas besar. Wilayah ini memang beken dengan menjamurnya kawasan industri
sehingga tumpah-ruah lulusan SMA, STM, bahkan SMP dari Jawa dan Sumatera guna
mengadu nasib.
Sekitar 15 menit berlalu, tibalah aku di tujuan akhir angkot kecil
ini. Terminal Cikarang seolah-olah menjadi saksi awal mula perjuanganku dalam
merantau ke tempat yang lebih jauh.
Ku masuki terminal baru dibangun ini. Berderet bis-bis besar
dengan berbagai jurusan ke kota-kota besar di Jawa Barat. Ada Cikarang-Bogor, Cikarang-Merak,
Cikarang-Jakarta, Cikarang-Sumedang, dan sebagainya. Ku dapati lah Bis
Primajasa putih, besar lagi panjang tertulis di kaca depannya yakni
Cikarang-Bandung. Alhamdulillah, bersyukurlah hatiku dan lega lah dadaku.
Ku taiki saja dan langsung duduk di jok hitam. Ku serahkan
kardusku pada Pak Kernet untuk diletakkan di bagasi saja agar meringankan
bebanku. Yang tersisa hanyalah tas gendong yang ku letakkan di pangkuanku.
Rasa awas dan hati-hati ku tancapkan betul di hati kecilku.
Mengingat ku safar hanya seorang diri. Biasanya orang-orang pada umumnya
diantar oleh kerabat atau keluarga saat akan merantau jauh, tapi tidak dengan
diriku. Garis tangan berkata lain.
Ku amati sepanjang perjalanan. Ku lirik kanan-kiri, ternyata
Purwakarta nama tempat ini. Sebuah tempat yang baru bagiku. Terlihat dari
plang-plang di pinggir jalan, mulai dari sekolah, perkantoran, atau nama
restoran kalau ini namanya Purwakarta. Mungkin karena di Tanah Pasundan
sehingga ejaannya berakhiran ‘a’. Kalau di Jawa namanya pasti Purwokerto, nama
kota di Jawa Tengah.
Sudah menjadi kebiasaanku, pikiran suka melayang-layang dan suka
muncul khayalan-khayalan indah yang diinginkan terjadi di masa mendatang. Yang
pasti indah-indah yang harapannya. Mungkin ini efek dari keterlenaan akan
jalanan bis yang menanjak-menurun. Di samping itu, terpampang pula pepohonan hijau
tinggi menjulang berjejer dekat jalan, ditambah lagi panorama alam berupa kebun
teh yang menyedapkan mata.
Sekitar 4 jam berlalu hilanglah jalanan landai berkelok-kelok dan
pemandangan nan mempesona itu. Gerbang Tol Cimahi, begitu tulisan yang terbaca
lewat celah kaca jendela bis. Masuklah mobilku ke jalan bebas hambatan setelah
menyerahkan uang tiket kepada petugas Bina Marga.
Melajulah dengan kecepatan tinggi besi panjangku. Angin
sepoi-sepoi berhembus akibat tingkahnya. Penumpang pun ikut girang dibuatnya. Lancar
jaya menuju Bandung Kota.
Keluarlah di gerbang Tol Pasir Koja. Merambatlah jalannya bus
seolah-olah mengalah dengan kendaraan-kendaraan kecil lainnya. Bagai kakak
paling besar merendah kepada adik-adiknya.
Lambat laun, merayap, dan terus merayap tibalah di sebuah gerbang
yang bertuliskan Terminal Leuwi Panjang. “Oh ini yang dikatakan oleh Teh Nina
tetangga kakakku di Bekasi bahwa nama terminal bis di Bandung namanya Leuwi
Panjang,”gumamku dalam hati.
Alhamdulillah, kesampaian juga keinginanku selama ini untuk ke Ibukota
Jawa Barat ini. Sebuah keinginan yang hanya bisa dipendam tapi kini terwujud.
Sebuah hasrat yang hanya mentok di angan-angan, kini bisa dibuktikan. Inilah
yang namanya takdir itu. Allah telah membuka jalan-Nya.
“Bandung
abis...Bandung abis....” kata Pak Kernet setengah berteriak kepada para
penumpang Bis Primajasa yang ku tumpangi.
Ku turunkan kedua kakiku dari bis besar ini dengan gugup bercampur
sedikit bahagia. Ku tengok kanan-kiri untuk mencari bis damri arah ledeng. Dari
kejauhan sudah terlihat wujudnya, ternyata corak warna bis ini bentuknya sama
seperti di daerahku. Jangan-jangan sama di seluruh Indonesia.
Agar lebih meyakinkan batinku, ku hampiri dua petugas berseragam
dinas perhubungan yang sedang duduk di bawah tenda. “Pak, maaf numpang tanya.
Kalau bis damri jurusan ledeng mana ya?” tanyaku.
“Itu Dik, di depan bis nomor dua jurusan Leuwi Panjang-Ledeng,”
jawab salah satu petugas.
“Oh ya Pak. Makasih.” timpalku dengan anggukan.
Sesudah yakin dengan tulisan besar di depan kaca besar mobil
“Ledeng-Leuwi Panjang” dengan angka 2 di tengahnya, barulah aku ikuti kerumunan
orang yang menaikinya. “Alhamdulillah dapat tempat duduk,” syukurku dalam hati.
Selang hanya beberapa menit angkutan pemerintah ini pun padat
dengan penumpang dan sang kondektur pun menjalankannya. Pak kernet si pembantu
sopir pun sibuk menagih-nagih ongkos penumpang, termasuk daku. Saat dia
menoelku, aku pun menyerahkan uang sewa sebesar dua ribu rupiah. Ini ku ketahui
karena ku lihat-lihat penumpang lainnya menyerahkan koceknya sebesar itu.
“Murah
benar,” hatiku berkata diringin senang.
Merayap dan teruslah merayap moda transportasi yang ku taiki.
Namun aneh, kok tidak nambah-nambah ya kecepatannya sedari beranjak dari
terminal tadi. Ternyata penyebabnya padatnya Kota Bandung, baik berupa
kendaraan roda dua maupun roda empat, lalu lalangnya manusia, serta pembangunan
jalan layang yang penuh kebisingan sehingga terjadi penyempitan jalan kota.
Jok keras yang ku duduki lama-kelamaan bikin tak nyaman juga.
Bokong mulai panas rasanya. Tak ada solusi lain terkecuali menggesernya ke
kanan dan ke kiri. Keadaan penumpang tambah penuh sesak akibat ulah kondektur
dan kernet terus-terusan menaikkan penumpang. Mungkin karena murah membuat
manusia berebut menaikinya.
Ku lihat kiri-kanan untuk mengetahui sampai dimana lokasiku
sekarang. Terpajang plang-plang kantor atau gedung yang terjangkau oleh
penglihatan, ada Pasar Sukajadi salah satunya, dimana ini tempat macet
terparah. Ada Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dimana banyak berjejer parkiran
mobil. Ada lagi Cipaganti yang memiliki masjid rayanya yang memukau.
Masuklah ke jalan lebar, hitam, mulus serta memiliki garis marka
tengah. Perjalanan agak sedikit lebih lancar. Ku lihat di salah satu plang
entah restoran atau gedung apa namanya, ternyata Jalan Dr. Setiabudi. Sementara
jantungku bertambah deg-deg ser dibuatnya.
Wow, berarti tak lama lagi
aku akan segera tiba sepertinya karena kampus yang akan menjadi tempatku kuliah
berada di jalan ini. Pas tiba di lampu merah, terpampang penunjuk jalan
berwarna hijau dengan tulisan putih Geger Kalong kalau ke kiri, Lembang kalau
ke atas. Terngiang sudah namanya Aa Gym, seorang da’i kondang yang sedang naik
daun kala bahwa pesantrennya di Geger Kalong. Sedangkan UPI berada di samping
Darut Tauhdi Aa Gym katanya.
Tak lama kemudian sang kernet pun berkata: “UPI..UPI..”
Aku pun langsung berdiri dan memberikan isyarat akan turun.
Ku amati dengan mata telanjangku saat memasuki gerbang kampus yang
berwibawa, Masjid Al-Furqon yang mempesona, gedung tua peninggalan Belanda yang
dijuluki Villa Isola, lapangan futsal, pohon-pohon yang rindang, jalanan
beraspal yang naik-turun, gedung-gedung fakultas, kantin, dan berbagai macam
bangunan lainnya.
Perasaan kampunganku sulit dipungkiri harus ku lawan sekuat
mungkin agar urusanku jadi lancar. Ku gerakkan lidahku tuk bertanya pada orang
yang di lingkungan perguruan tinggi keguruan ini.
“Aa,
kalau registrasi mahasiswa baru dimana ya?” tanyaku pada salah seorang yang
lagi santai.
“Di sana
Kang, namanya gedung BAUK,” jawabnya sambil menunjuk ke salah satu arah.
“Makasih
A,” timpalku dengan anggukan.
Ku lanjutkan langkah menuju gedung yang dimaksud orang tempat ku
bertanya tadi. Dengan bermodal nekad ku cari-cari sambil ku lirik-lirik tulisan
yang menempel di gedung atau papan nama depannya guna mengetahui apa nama
bangunan tersebut. Saat mentok alias belum menemukan, lagi-lagi ku gerakkan
lisanku tuk bertanya kembali.
Walhasil, setelah bermenit-menit menelurusan jalan berbelok,
kadang menurun, dan kadang nanjak akhirnya ketemu juga nama BAUK yang
kepanjangannya ternyata Badan Administrasi dan Urusan Keuangan. Didalamnya
penuh sesak oleh calon mahasiswa-mahasisiwi yang akan membayar uang masuk. Aku
pun turut mengantri di jalurnya. Guna memudahkan, terdapat tulisan yang
menerangkan bidang-bidang tertentu di kertas maupun papan mini seperti bagian
pemabayaran daftar ulang, pengambilan berkas, dan sebagainya.
Tak butuh waktu lama-lama amat di antrian, sampailah giliranku
untuk melakukan registrasi. Hanya dengan menyebutkan identitasku, Ku serahkan
uang sejumlah 1.700.000 rupiah untuk SPP semester pertama dan daftar ulang
kepada petugas keuangan. Mengingat data diri singkatku memang sudah tersimpan
secara online di website upi.edu. Mungkin karena proses pengisian data pribadi
ketika akan ikut ujian masuk perguruan tinggi sebulan lewat.
Resmilah aku menjadi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
(UPI) Bandung, Jawa Barat. Nomor pokok atau Nomor Induk Mahasiwa (NIM) pun
sudah di tangan sebab uang pendaftaran berikut biaya semesteran baru ku lunasi.
Bahagianya bukan main jiwaku. Terkabulkan sudah keinginanku untuk mengenyam
pendidikan di bangku kuliah. Sebagai anak bungsu ini merupakan anugerah yang
luar biasa dari Yang Maha Pemberi karena kedelapan saudaraku tak ada yang
sampai perguruan tinggi sekolahnya.
Untuk selanjutnya ku diarahkan mengikuti rangkaian macam-macam tes
seperti tes buta warna, cek kesehatan, golongan darah, serta pengukuran jas
almamater.
Di tes buta warna, aku ditunjukkan bintik-bintik aneka warna
dengan background gambar tertentu. Alhamdulillah lulus, tapi yang tidak
mengenakkan adalah pengetesnya perempuan jutek. Sedangkan pada tes kesehatan
dan golongan darah, ku temui wanita-wanita ramah yang berlagak suster. Begitu
pula dengan pemeriksaan golongan darah, ku jumpai pemandangan yang sama.
Ku terkaget-kaget dan bangga ketika ku ketahui ternyata golongan
darahku B plus. Sebab seumur-umur, baru kali ini darahku diperiksa dengan
disuntik ujung jarinya kemudian dipencet sedikit agar menetes di sebuah kartu
kecil. Si suster lalu menyebarkannya dan ketahuanlah hasilnya. Anak-anak
sebayaku sering mengungkapkan golongan darahnya satu sama lain bila berbincang,
sedangkan aku hanya terperangah mendengarnya. Dan alhamdulillah hari ini aku
benar-benar tahu golongan darahku. Sudah pede rasanya jika nanti ada siapapun
mempertanyakannya pada diriku. Soalnya ku sering kebingungan bila ada yang
nanya-nanya apa golongan darahmu.
Untuk selanjutnya ku diarahkan untuk pergi ke jurusan yang ku
pilih, yakni Pendidikan Bahasa Jerman. Di sini ku dipertemukan dengan Ketua
Himpunannya, Andris Susanto. Sosok yang ramah dan mangawali wawancarana padaku
dengan senyuman. Di antaranya pertanyan-pertanyannya adalah menanyakan asalku,
pernah aktif di organisasi apa, pendapatku tentang apa itu mahasiswa, kepemimpinan,
perlukah mahasiswa berorganisasi atau hanya cukup mengejar akademik saja,
sampai pada hal pribadi yaitu apakah aku sudah mendapatkan kosan belum di sini.
Ku jawab saja dengan pendapatku yang ku ketahui. Salah satu
jawaban yang membuat ketua DSV itu kagum ialah ketika ku berikan jawaban
mengenai masalah kepemimpinan. Ku katakan bahwa keadaan pemimpin itu tergantung
keadaan rakyatnya. Jika rakyatnya saleh, maka akan dianugerahi pemimpin yang
saleh juga. Jika keadaan rakyatnya rusak, maka pemimpinnya rusak juga. Coba
kita lihat rakyat di zaman ke-khalifahan Abu Bakar dan Umar, rakyatnya
saleh-saleh dan baik-baik kan? Makanya lahirlah pemimpin yang saleh dan adil
pula seperti Abu Bakar dan Umar. Nah, jika kita ingin punya pemimpin yang baik,
adil, dan saleh, kita harus perbaiki kondisi masyarakatnya dulu. Kita dakwahkan
mereka tentang agar mereka menjadi baik.
Sang ketua himpunan pun terkagum-kagum dengan jawabanku sehingga terlontar
pujian dari bibirnya. Ia mengakui wawasanku luas juga. Tak sia-sia juga ku
ikuti organisasi keislaman (ROHIS), organisasi politik, dan membaca-baca
majalah keislaman waktu SMA dulu.
Usai berbincang-bincang dan berkenalan dengan jurusan kejermanan
serta kakak-kakak senior, bertolaklah aku ke Masjid Al-Furqon UPI. Ku
duduk-duduk di pelataran masjid guna menarik nafas sejenak setelah
berlelah-lelah registrasi dan bertaaruf dengan jurusan perkuliahanku. Ku
lihat-lihat sekelilingnya, masjid ini memiliki menara azan nan megah berwibawa,
rerumputan hijau di tengah-tengah pelataran berbentuk yang tersambung dengan
bangunan utama masjid. Di tempat ini banyak sekali difungsikan oleh
mahasiswa-mashasiswi untuk berdiskusi mengerjakan tugas, istirahat, atau
sekadar nampang.
Sedang enak-enak santai dengan suasana baru dunia perkuliahan,
datanglah seseorang dengan postur tinggi kurus, rambut keriting, dan memiliki
logat khas Jawa. “Assalamu’alaikum, antum siapa namanya?”sapanya padaku dengan
wajah ramah.
“Wa’alaikumussalam.
Nama saya Muiz, jurusan Bahasa Jerman. Antum sendiri siapa?” tanyaku balik.
“Saya
Yudi, dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Antum sudah dapat kosan belum?”
tanya Mas Yudi.
“Belum.
Saya baru beres registrasi Mas. Jadi belum sempat mencari kosan dan tidak tahu
juga harus mencari kemana,” jawabku.
“Oh ya
sudah. Ikut ke kosan saya saja, nanti bisa nyari-nyari di sana. Namanya Daerah
Cipaku,” tawarnya padaku.
“Oh ya
sudah Mas. Saya ikut saja karena saya belum tahu daerah-daerah sini,” sambutku.
Aku pun pergi mengikuti Mas Yudi ke kosannya di Cipaku. Butuh
waktu sekitar enam atau tujuh menit perjalanan dari kampus. Sampai di kosannya
yang lumayan besar ukurannya, ku disuguhi minum dan dipersilahkan untuk
istirahat dulu. Ternyata satu kamar kosan ini dihuni oleh tiga orang, dia
bersama dua temannya. Luar biasa ya, kataku dalam hati. Mungkin agar lebih
hemat dan efisien keuangannya, mengingat mereka hanyalah mahasiswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar