Sabtu, 04 Mei 2024

Bank, dan Hukum Bekerja di Dalamnya

 

Kita sebagai muslim tentunya patut tahu dimanakah tempat kita mencari penghasilan dan apakah penghasilan yang kita dapatkan halal atau haram. Kalau urusannya halal-haram, akibatnya bisa bahagia atau celaka, azab kubur atau nikmat yang didapatkan, surga atau neraka yang bakal dimasuki nantinya. 

Bank, merupakan tempat berkumpulnya uang masyarakat dalam jumlah yang sangat besar. Akan tetapi, lembaga satu ini ada sisi negatifnya yakni menggunakan sistem bunga bahasa halusnya. Padahal riba hakikatnya. Sedangkan riba itu dilarang dan dilaknat oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ketika ditanya : Apa hukum bekerja di bank-bank ribawi dan transaksi yang ada di dalamnya ? Jawabannya : Bekerja di sana diharamkan karena dua alasan. 1. Membantu melakukan riba Bila demikian, maka ia termasuk ke dalam laknat yang telah diarahkan kepada individunya langsung sebagaimana telah terdapat hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau : آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ “Melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya”. Beliau mengatakan. وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ “Mereka itu sama saja”. 2. Bila tidak membantu, berarti setuju dengan perbuatan itu dan mengakuinya. Oleh karena itu, tidak boleh hukumnya bekerja di bank-bank yang bertransaksi dengan riba. Sedangkan menyimpan uang disana karena suatu kebutuhan, maka tidak apa-apa bila kita belum mendapatkan tempat yang aman selain bank-bank seperti itu. Hal itu tidak apa-apa dengan satu syarat, yaitu seseorang tidak mengambil riba darinya sebab mengambilnya adalah haram hukumnya.

Tidak boleh bekerja pada perusahaan-perusahaan ribawi. Meskipun hanya sebagai sopir atau satpam. Karena masuknya ia sebagai pekerja di perusahaan ribawi, menunjukkan keridhoannya terhadap perusahaan yang menganut sistem riba tersebut. Seorang yang tidak setuju pada sesuatu, tentu dia tidak akan bekerja untuk kepentingan yang tidak ia setujui tersebut. Bila ia berkenan untuk bekerja demi kepentingan perusahaan tersebut, itu menunjukkan bahwa dia ridha dengannya. Dan seorang yang ridho dengan perbuatan haram, menanggung dosa perbuatan tersebut.

Hanya Allah yang memberi taufik. Marilah kita cukupkan diri dengan yang halal saja. Masih banyak pekerjaan yang bisa memberi penghasilan yang halal.

Cukup nasehat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut sebagai wejangan bagi kita semua.

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik .”






 

 

 

Daftar Pustaka :

https://rumahsyariahhalal.com/hukum-bekerja-di-bank/

https://www.youtube.com/watch?v=4bX-lqiyKSw

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka :

https://almanhaj.or.id/778-hukum-bekerja-di-bank-bank-ribawi-dan-transaksi-yang-ada-didalamnya.html

https://konsultasisyariah.com/26425-hukum-bekerja-sebagai-tukang-bersih-taman-di-bank-konvensional.html

https://rumahsyariahhalal.com/hukum-bekerja-di-bank/

https://www.youtube.com/watch?v=4bX-lqiyKSw

Serarngan Al-Qur’an terhadap Pelaku Riba

 

 

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.


Anak Investasi Masa Depan

 

Anak-anak sering ribut di kelas ketika belajar, bikin gaduh di masjid saat waktu salat, susah ditertibkan waktu upacara, gaya bicara yang kasar bahkan kadang keluar kata-kata ‘jorok’, serta prilaku buruk lainnya. Ini merupakan problem mental anak didik yang banyak terjadi di lapangan.

Ditambah lagi masalah yang lebih ekstrim seperti pacaran, banyak menyia-nyiakan waktu dengan bermain game, merokok, songong, tidak mau salat, bahkan ada  yang melakukan pembegalan, serta seabrek prilaku buruk lainnya. Hal ini tentunya membuat hati kita miris.

Pelajar merupakan calon pembangun negeri ini. Merekalah para pemuda yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di masa mendatang. Generasi negeri ini harus mendapatkan perhatian kita bersama. Kita tentunya tak boleh abai sebab maju-mundurnya bangsa ini ke depan tergantung dari pemuda-pemudinya. Apalagi kita sebagai muslim wajib peduli akan hal ini.

Para pendidik dalam hal ini guru dan orang tua perlu berkontribusi terhadap aset masa depan yang bernama anak. Paling tidak ada enam hal fundamental yang patut kita perhatikan guna membenahi problematika yang sedang kita hadapi ini. Pertama, dekatkan anak didik kita dengan alquran. Ajari anak-anak kita cara membaca alquran yang benar dengan memperhatikan kaidah-kaidah tajwid. Perdengarkan mereka pula tilawah para masyaikh atau qori terkenal agar telinganya peka akan kalam ilahi Yang Maha Indah. Lalu, biasakan mereka untuk mengahapalnya dengan diawali surat-surat pendek. Sehingga lisan, telinga, dan kalbunya lekat kepada kitabullah.

Perdana Menteri Inggris Gladstone (1809-1898) pernah berujar, “Kita tidak akan mampu menguasai umat islam selama di dalam dada pemuda-pemuda islam bertengger alquran. Tugas kita adalah mencabut alquran dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam.”

Kedua, menanamkan akidah yang benar. Kita dapat memberikan pelajaran yang berhubungan dengan akidah dari kisah-kisah yang ada di quran maupun sunnah. Kita kenalkan siapa Tuhan kita, di mana Tuhan kita, mengapa kita harus mentauhidkan dan beribadah hanya kepada-Nya serta tidak boleh syirik, dan lain-lain.

Ketiga, mengajarkan anak-anak kaifiat wudu dan salat yang benar sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Kita suruh mereka untuk mengamalkan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari dengan sabar dan kontinu.  

Keempat, menanamkan pendidikan adab-ahlak mulia kepada mereka. Kita ajarkan adab-adab kepada orang tua dan guru, adab-adab di masjid, adab makan-minum, adab buang hajat, adab bergaul, adab safar, ahlak kepada teman, ahlak terhadap lingkungan, dan lain sebagainya.

Kelima, perlunya kerjasama yang erat antara guru dan orang tua peserta didik. Guru bukanlah malaikat yang dapat mengubah dalam waktu sekejab. Lembaga pendidikan juga bukan tempat yang bisa menyulap anak-anak menjadi baik dalam waktu singkat. Butuh sinergi antara guru-orang tua. Ketika anak-anak memperoleh pelajaran di sekolah, seyogyanya orang tua menyuruh anak-anaknya untuk murajaah di rumah sehingga apa yang telah didapatkan membekas dalam kehidupan nyata,

Keenam, berdoa. Sebagai hamba yang lemah tentunya kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Walaupun kita sudah maksimal berusaha, yang akan menjadikan anak kita saleh atau salehah adalah Allah ta’ala. Ikhtiar yang kita perbuat tidak akan berarti apa-apa apabila bukan karena bantuan-Nya. Selipkan doa-doa terbaik untuk anak-anak kita di waktu-waktu mustajab agar mereka memperoleh hidayah dan taufik-Nya. Karena Allah lah Yang Maha membolak-balikkan hati.

 

Sungguh Tak Diduga

 

Sore itu, ku ajak anak istriku untuk jalan-jalan ke Dramaga dengan tujuan gang Haji Abbas. “Mi kita cari rumah Pak Nandar yuk. Waktu itu pernah ketemu beliau di dekat ATM depan Rumah Sakit Dramaga. Kayaknya rumah di sekitar itu deh. Soalnya dia penah bilan ke Abi dulu kalau rumahnya di Jalan Haji Abbas,” usulku kepada istriku di kamis ba’da ashar itu.

“Yah...abi mah nebak-nebak aja. Ntar gimana. Masa iseng-iseng gitu,” jawab istriku.

“Tenang aja Mi. Abi yakin rumahnya pasti di sekitar itu,” kataku dengan percaya diri.

Istriku pun akhirnya menyetujui dan berangkatlah kami berempat untuk jalan-jalan sore (JJS) sekalian. Jalan Raya Ciherang pun kami lalaui sampai di pertigaan Caringin kemudian belok kiri ke Jalan Raya Dramaga. Samping Alfamart ku ambil kiri dan gas motor pun ku tarik dengan santai.

Saat melewati sebuah perumahan, aku berujar, “Kayaknya bukan di sini Umi rumahnya. Sepertinya terus ke sana.”

“Ya udah, terus aja,” kata istriku.

Lanjutlah perjalanan kami, sampai beberapa meter ku beranikan diri tuk bertanya pada seorang bapak yang ada di warung.

“Pak, punten mau nanya. Tahu rumahnya Pak Nandar gak ya? Yang kerjanya di Bintang Pelajar. Yang jidatnya lebar,” kataku.

“Oh yang suka pake motor supra ya. Coba Bapak terus ke sana nanti belok kanan. Pas di warung coba tanya di situ nanti,” jawab bapak yang sedang nongkrong tersebut.

“Oh gitu Pak, makasih ya,” ucapku padanya.

Kami pun melaju sampai di sebuah warung dan menanyakan lokasi rumah Pak SDM Bintang Pelajar tersebut kepada seorang ibu. Jawaban yang kami dapatkan yakni menyuruh kami terus saja ke depan hingga ketemu rumah bagus-bertingkat, lalu kami disarankannya masuk ke gang yang ada di samping rumah tersebut.

Ketika kamu jumpai rumah yang dimaksud, aku pun memarkirkan motor sejenak di depannya untuk bertanya kembali. Benar ternyata, rumah Abi Nandar kata masyarakat sekitar itu menyebutnya di dalam gang tersebut. Lurus dikit, ada jejeran kontrakan ada rumah paling pojok.

Alhamdulillah, ketemu sudah baitnya orang kepercayaan owner Bintang Pelajar itu. Lega sudah hati kami berempat.

“Assalamu’alaikum,” ucapku dengan mengetok pintu rumahnya.

“Wa’alaikumussalam. Pa kabar Mas muis?” Tanya Pak Nandar dengan senyum ceria di tengah salaman erat.

“Alhamdulillah baik Pak. Antum gimana kabarnya?” Tanyaku balik.

“Alhamdulillah. Ayo masuk Mas”jawabnya.

“Ya Pak,”ujarku sambil ke rumahnya.

Aku pun duduk di sofanya di ruang tamu, sedangkan anak-istriku duduk di ruang tengah bersama dengan anak-bininya juga. Tak lama, suguhan makanan tradisional berbahan dasar singkong dihidangkan kepada kami ditemani dengan teh manis.

“Gini aja Mas Muis makanan di rumah saya. Saya paling suka makanan ini.” ucap Pak Nandar.

“Oh gitu ya Pak. Masyaallah ya, lebih sehat berarti makanan antum sekeluarga,” pujiku.

“Saya kurang kenal sama makanan-makanan modern Mas,” lanjutnya.

“Bagus itu Pak. Sudah lama banget saya gak makan makanan kayak gini. Waktu kecil dulu di kampung mah sering Pak,” jelasku.

Aku pun menikmati kue-kue singkong tersebut. Ada yang dibalut gula merah dengan bungkusan daun pisang. Ada pula yang ditabur parutan kelapa di atasnya. Seneng juga rasanya bisa ketemu cemilan sehat begini. Teh manis pun ku seruput dengan nikmat.

“Sekarang antum di SMA Bintang Pelajar ya Pak tugasnya?” Tanyaku untuk menyelidiki.

“Iya, saya bagian SDM-nya Mas,” jawabnya.

“Pak Syamsul ngajar Bahasa Indonesia kan di situ Pak?” Lanjutku menanyakan rekanku di BP Tangeran dulu.

“Iya, dia juga wakasek (wakil kepala sekolah) di sana,” lanjutnya menjelaskan.

“Masyaallah, hebat juga ya. Sudah banyak ya muridnya Pak?” Tanyaku.

“Ya, alhamdulillah. Tapi belum tercapai target memang,” lanjutnya.

“Di situ kan ada Sekolah Islam Terpadu At-Taufiq, apa gak terganggu dia Pak dengan keberadaan BP?”Tanyaku sok menyelidiki.

“Sebenarnya gak perlu merasa terganggu, kan beda pasaran,” terang Pak Nandar singkat.

Dengan rasa jantung deg-degan, aku pun memberikan diri untuk mengungkapkan maksud kedatanganku ke rumahnya.

“Pak, gini sebenarnya saya ada perlu sama antum. Saya sudah ngelamar ke BP untuk jadi GHL (Guru Honor Lepas). Saya sudah kirim ke Pak Adrian KR (Kepala Regional) wilayah Bogor, ke Pak Imam QCR (Quality Control Regional), dan ke Mas Erick selaku pihak SDM. Akan tetapi, kata mereka lamaran saya ditolak sama SDM sekarang karena ada catatan kinerja dulu ke kurang bagus,” ulasku dengan gerogi.

“Catatan kinerja gimana maksudnya?” Tanya Pak Nandar balik.

“Itu Pak, katanya dulu saya ada catatan kurang bagus kinerjanya,” jelasku lagi.

Pak Nandar pun sepertinya langsung paham maksudku karena dialah yang paling tahu akan catatan kebaikan maupun keburukan seluruh pegawai BP terutama para guru.

Azan maghrib pun memanggil. Kami pun menghentikan obrolan kami untuk memenuhi seruan agung itu. Supra-X yang biasa dipakainya beraktivitas pun dikeluarkan dari garasi untuk selanjutnya membawa kami berdua plus putranya ke masjid.

Tak butuh waktu lama tibalah kami di rumah Allah. Kendaraan pun diparkirkan di tempatnya lalu kami pun berwudu. Selesai itu kami memasuki tempat suci ini dan iqomat pun dikumandangkan.

Ramainya jama’ah terdiri dari berbagai kalangana : pria, wanita, dan anak-anak. Suasana khidmat shalat maghrib begitu terasa.

Usai zikir dan shalat rawatib dua rakaat kami pulang. Ku lanjutkan menyantap kue sajiannya sambil bercakap ringan. Sementara kedua anakku bolak-balik ruang tamu-ruang tengah, lari-larian, bercanda, serta membuat gaduh.

Di ruang tengah, terdengar riuh ternyata anak pertamaku Hana pub di celana. Hatiku jadi gelisah dan wajahku jadi malu kepada tuan rumah walaupun sebenarnya tidak apa-apa dan mereka memakluminya.

Istriku pun jadi sibuk dibuatnya sedangkan aku megang Royan untuk sementara agar ia tidak ke kamar mandi. Dengan kebaikan sang istri Pak Nandar, anakku diberikan celanan buat salin. Sungguh telah membuat hati kami kagum dan ucapan maaf karena telah merepotkan.

Menjelang isya aku sekeluarga pun pamit pulang. Aku berharap silaturrahmiku dengan Pak Nandar mendapat keberkahan dari Allah. Dan aku juga berharap dan optimis bahwa aku akan diterima di BP jadi GHL sehingga akan menjadi tambahan penghasilanku.

Rasa senang yang berkecamuk luar biasa di dalam dadaku ketika perjalanan pulang. Pun dengan istriku, rasa gembiranya turut terpancar dari wajahnya dengan harapan sebentar lagi kesusahan ekonomi keluarga akan sedikit terbantu. Hanya tinggal menghitung hari aku akan mendapat pekerjaan tambahan. Ingin seperti dulu lagi memiliki uang yang cukup lumayan. Ingin seperti di kala itu, saldo tabungan bisa merangkak naik walau sedikit-sedikit.

Akhirnya Ketemu Mas Yudi

 

Malam itu ku lumayan gelisah. Bagaimana tidak, pertama kalinya besok harus pergi ke Bandung. Sebuah kota yang sangat jauh dari tempat kelahiranku, Lampung. Rasa gembira, deg-degan, dan sedih bercampur jadi satu. Gembira karena aku akan kuliah. Deg-degan karena aku takut nyasar. Dan sedih karena ku akan berpisah dari orang tua dan sanak-saudaraku.

Tidur setengah nyenyak mungkin itulah kata yang tepat. Sedikit-sedikit bangun melihat jam dinding berdetak. Ternyata masih tengah malam. Bangkit lagi dari tidur, masih pukul 2.00 ternyata. Ku pejamkan mata kembali. Dan kali ini berhasil. Mungkin karena udara Kota Bekasi sudah mulai dingin ditambah lagi kipas angin ruangan yang akhirnya menyebabkanku tidur pulas.

“Kukuruyuk...kukuruyuk....kukuruyuk....” alarm bernada ayam pun berbunyi.

Tidur nyenyakku berakhir sudah. Ku terduduk sejenak sambil membaca doa bangun tidur. Segera ku lipat selimut yang ku pakai dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih sekalian berwudu.

Lalu ku ambil sajadah tebal berwarna coklat dengan motif masjid agung. Ku hamparkan di lantai. Mumpung masih ada sekitar lima menit untuk shalat witir satu rakaat pikirku.

Sesaat kemudian berkumandanglah suara azan, “Allahu Akbar...Allahu Akbar...”

Untung saja sudah kelar qiyamul lailku, alhamdulillah. Ku ayunkan langkah kakiku menuju musola terdekat melewati jalan satu mobil. Angin fajar nan sejuk turut menambah semangatku. Suasana hening karena masih minimnya kendaraan jalanan membuat khusyu’ jamaah yang shalat.

Kewajiban usai, aku pun kembali ke rumah saudariku. Ku hitung-hitung kembali uang daftar ulang kuliah yang akan ku bawa. Jangan sampai ketinggalan sepeser pun agar tidak fatal akibatnya. Ku masukkan kembali lembaran berharga di tempat yang rapi dan aman.

“Uangnya masukkan ke kantong celana bagian depan. Biar aman” perintah kakakku.

“Iya Kak...,” jawabku.

“Sana sarapan dulu biar gak masuk angin. Soalnya jauh tu Cikarang-Bandung,” kata saudariku.

“Iya. Bentar lagi nih beres,” jawabku sambil mengemasi tas dan kardus.

Nasi yang telah terhidang beserta lauk-pauknya ku santap dengan lahap. Begitu pula teh hangat manis sebagai penutupnya. Penting sekali mengisi perut sebelum beraktivitas agar semua berjalan dengan lancar.

Setelah yakin perutku ku kenyang, aku pun berpamitan kepada saudariku. “Mba, berangkat ya.”

“Ya udah hati-hati di jalan ya Is. Jangan lupa kalau sudah sampai Bandung, kasih kabar ke saya,” pesannya kepadaku.

“Assalamu’alaikum,” kataku pada saudariku.

“Wa’alaikumussalam,” jawabnya.

Berangkatlah daku ke depan gang dengan membawa kardus, tasa, serta kresek yang isinya bekal-bekal untuk hidup di Bandung kelak. Ku tunggu angkot 36 yang akan menuju terminal. Tak perlu menunggu waktu lama ternyata. Ku setop dengan tangan kiriku, dan abang sopir pun menghentikan laju kendaraan mungilnya.

Melajulah kendaraan yang ku tumpangi. Ku lihat banyak karyawan pabrik berseragam yang semobil bersamaku. Sepertinya sudah tradisi mereka harus angkat kaki dari rumah sebelum mentari menampakkan wujudnya. Untuk menghidupi keluarganya serta merubah nasib, mereka harus rela mengarungi kerasnya hidup di kotas besar. Wilayah ini memang beken dengan menjamurnya kawasan industri sehingga tumpah-ruah lulusan SMA, STM, bahkan SMP dari Jawa dan Sumatera guna mengadu nasib.

Sekitar 15 menit berlalu, tibalah aku di tujuan akhir angkot kecil ini. Terminal Cikarang seolah-olah menjadi saksi awal mula perjuanganku dalam merantau ke tempat yang lebih jauh.

Ku masuki terminal baru dibangun ini. Berderet bis-bis besar dengan berbagai jurusan ke kota-kota besar di Jawa Barat.  Ada Cikarang-Bogor, Cikarang-Merak, Cikarang-Jakarta, Cikarang-Sumedang, dan sebagainya. Ku dapati lah Bis Primajasa putih, besar lagi panjang tertulis di kaca depannya yakni Cikarang-Bandung. Alhamdulillah, bersyukurlah hatiku dan lega lah dadaku.

Ku taiki saja dan langsung duduk di jok hitam. Ku serahkan kardusku pada Pak Kernet untuk diletakkan di bagasi saja agar meringankan bebanku. Yang tersisa hanyalah tas gendong yang ku letakkan di pangkuanku.

Rasa awas dan hati-hati ku tancapkan betul di hati kecilku. Mengingat ku safar hanya seorang diri. Biasanya orang-orang pada umumnya diantar oleh kerabat atau keluarga saat akan merantau jauh, tapi tidak dengan diriku. Garis tangan berkata lain.   

Ku amati sepanjang perjalanan. Ku lirik kanan-kiri, ternyata Purwakarta nama tempat ini. Sebuah tempat yang baru bagiku. Terlihat dari plang-plang di pinggir jalan, mulai dari sekolah, perkantoran, atau nama restoran kalau ini namanya Purwakarta. Mungkin karena di Tanah Pasundan sehingga ejaannya berakhiran ‘a’. Kalau di Jawa namanya pasti Purwokerto, nama kota di Jawa Tengah.

Sudah menjadi kebiasaanku, pikiran suka melayang-layang dan suka muncul khayalan-khayalan indah yang diinginkan terjadi di masa mendatang. Yang pasti indah-indah yang harapannya. Mungkin ini efek dari keterlenaan akan jalanan bis yang menanjak-menurun. Di samping itu, terpampang pula pepohonan hijau tinggi menjulang berjejer dekat jalan, ditambah lagi panorama alam berupa kebun teh yang menyedapkan mata.

Sekitar 4 jam berlalu hilanglah jalanan landai berkelok-kelok dan pemandangan nan mempesona itu. Gerbang Tol Cimahi, begitu tulisan yang terbaca lewat celah kaca jendela bis. Masuklah mobilku ke jalan bebas hambatan setelah menyerahkan uang tiket kepada petugas Bina Marga.

Melajulah dengan kecepatan tinggi besi panjangku. Angin sepoi-sepoi berhembus akibat tingkahnya. Penumpang pun ikut girang dibuatnya. Lancar jaya menuju Bandung Kota.

Keluarlah di gerbang Tol Pasir Koja. Merambatlah jalannya bus seolah-olah mengalah dengan kendaraan-kendaraan kecil lainnya. Bagai kakak paling besar merendah kepada adik-adiknya.

Lambat laun, merayap, dan terus merayap tibalah di sebuah gerbang yang bertuliskan Terminal Leuwi Panjang. “Oh ini yang dikatakan oleh Teh Nina tetangga kakakku di Bekasi bahwa nama terminal bis di Bandung namanya Leuwi Panjang,”gumamku dalam hati.

Alhamdulillah, kesampaian juga keinginanku selama ini untuk ke Ibukota Jawa Barat ini. Sebuah keinginan yang hanya bisa dipendam tapi kini terwujud. Sebuah hasrat yang hanya mentok di angan-angan, kini bisa dibuktikan. Inilah yang namanya takdir itu. Allah telah membuka jalan-Nya.

“Bandung abis...Bandung abis....” kata Pak Kernet setengah berteriak kepada para penumpang Bis Primajasa yang ku tumpangi.

Ku turunkan kedua kakiku dari bis besar ini dengan gugup bercampur sedikit bahagia. Ku tengok kanan-kiri untuk mencari bis damri arah ledeng. Dari kejauhan sudah terlihat wujudnya, ternyata corak warna bis ini bentuknya sama seperti di daerahku. Jangan-jangan sama di seluruh Indonesia.

Agar lebih meyakinkan batinku, ku hampiri dua petugas berseragam dinas perhubungan yang sedang duduk di bawah tenda. “Pak, maaf numpang tanya. Kalau bis damri jurusan ledeng mana ya?” tanyaku.

“Itu Dik, di depan bis nomor dua jurusan Leuwi Panjang-Ledeng,” jawab salah satu petugas.

“Oh ya Pak. Makasih.” timpalku dengan anggukan.

Sesudah yakin dengan tulisan besar di depan kaca besar mobil “Ledeng-Leuwi Panjang” dengan angka 2 di tengahnya, barulah aku ikuti kerumunan orang yang menaikinya. “Alhamdulillah dapat tempat duduk,” syukurku dalam hati.

Selang hanya beberapa menit angkutan pemerintah ini pun padat dengan penumpang dan sang kondektur pun menjalankannya. Pak kernet si pembantu sopir pun sibuk menagih-nagih ongkos penumpang, termasuk daku. Saat dia menoelku, aku pun menyerahkan uang sewa sebesar dua ribu rupiah. Ini ku ketahui karena ku lihat-lihat penumpang lainnya menyerahkan koceknya sebesar itu.

“Murah benar,” hatiku berkata diringin senang.

Merayap dan teruslah merayap moda transportasi yang ku taiki. Namun aneh, kok tidak nambah-nambah ya kecepatannya sedari beranjak dari terminal tadi. Ternyata penyebabnya padatnya Kota Bandung, baik berupa kendaraan roda dua maupun roda empat, lalu lalangnya manusia, serta pembangunan jalan layang yang penuh kebisingan sehingga terjadi penyempitan jalan kota.  

Jok keras yang ku duduki lama-kelamaan bikin tak nyaman juga. Bokong mulai panas rasanya. Tak ada solusi lain terkecuali menggesernya ke kanan dan ke kiri. Keadaan penumpang tambah penuh sesak akibat ulah kondektur dan kernet terus-terusan menaikkan penumpang. Mungkin karena murah membuat manusia berebut menaikinya.

Ku lihat kiri-kanan untuk mengetahui sampai dimana lokasiku sekarang. Terpajang plang-plang kantor atau gedung yang terjangkau oleh penglihatan, ada Pasar Sukajadi salah satunya, dimana ini tempat macet terparah. Ada Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dimana banyak berjejer parkiran mobil. Ada lagi Cipaganti yang memiliki masjid rayanya yang memukau.

Masuklah ke jalan lebar, hitam, mulus serta memiliki garis marka tengah. Perjalanan agak sedikit lebih lancar. Ku lihat di salah satu plang entah restoran atau gedung apa namanya, ternyata Jalan Dr. Setiabudi. Sementara jantungku bertambah deg-deg ser dibuatnya.

 Wow, berarti tak lama lagi aku akan segera tiba sepertinya karena kampus yang akan menjadi tempatku kuliah berada di jalan ini. Pas tiba di lampu merah, terpampang penunjuk jalan berwarna hijau dengan tulisan putih Geger Kalong kalau ke kiri, Lembang kalau ke atas. Terngiang sudah namanya Aa Gym, seorang da’i kondang yang sedang naik daun kala bahwa pesantrennya di Geger Kalong. Sedangkan UPI berada di samping Darut Tauhdi Aa Gym katanya.

Tak lama kemudian sang kernet pun berkata: “UPI..UPI..”

Aku pun langsung berdiri dan memberikan isyarat akan turun.

Ku amati dengan mata telanjangku saat memasuki gerbang kampus yang berwibawa, Masjid Al-Furqon yang mempesona, gedung tua peninggalan Belanda yang dijuluki Villa Isola, lapangan futsal, pohon-pohon yang rindang, jalanan beraspal yang naik-turun, gedung-gedung fakultas, kantin, dan berbagai macam bangunan lainnya. 

Perasaan kampunganku sulit dipungkiri harus ku lawan sekuat mungkin agar urusanku jadi lancar. Ku gerakkan lidahku tuk bertanya pada orang yang di lingkungan perguruan tinggi keguruan ini.

“Aa, kalau registrasi mahasiswa baru dimana ya?” tanyaku pada salah seorang yang lagi santai.

“Di sana Kang, namanya gedung BAUK,” jawabnya sambil menunjuk ke salah satu arah.

“Makasih A,” timpalku dengan anggukan.

Ku lanjutkan langkah menuju gedung yang dimaksud orang tempat ku bertanya tadi. Dengan bermodal nekad ku cari-cari sambil ku lirik-lirik tulisan yang menempel di gedung atau papan nama depannya guna mengetahui apa nama bangunan tersebut. Saat mentok alias belum menemukan, lagi-lagi ku gerakkan lisanku tuk bertanya kembali.

Walhasil, setelah bermenit-menit menelurusan jalan berbelok, kadang menurun, dan kadang nanjak akhirnya ketemu juga nama BAUK yang kepanjangannya ternyata Badan Administrasi dan Urusan Keuangan. Didalamnya penuh sesak oleh calon mahasiswa-mahasisiwi yang akan membayar uang masuk. Aku pun turut mengantri di jalurnya. Guna memudahkan, terdapat tulisan yang menerangkan bidang-bidang tertentu di kertas maupun papan mini seperti bagian pemabayaran daftar ulang, pengambilan berkas, dan sebagainya.

Tak butuh waktu lama-lama amat di antrian, sampailah giliranku untuk melakukan registrasi. Hanya dengan menyebutkan identitasku, Ku serahkan uang sejumlah 1.700.000 rupiah untuk SPP semester pertama dan daftar ulang kepada petugas keuangan. Mengingat data diri singkatku memang sudah tersimpan secara online di website upi.edu. Mungkin karena proses pengisian data pribadi ketika akan ikut ujian masuk perguruan tinggi sebulan lewat.

Resmilah aku menjadi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jawa Barat. Nomor pokok atau Nomor Induk Mahasiwa (NIM) pun sudah di tangan sebab uang pendaftaran berikut biaya semesteran baru ku lunasi. Bahagianya bukan main jiwaku. Terkabulkan sudah keinginanku untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Sebagai anak bungsu ini merupakan anugerah yang luar biasa dari Yang Maha Pemberi karena kedelapan saudaraku tak ada yang sampai perguruan tinggi sekolahnya.

Untuk selanjutnya ku diarahkan mengikuti rangkaian macam-macam tes seperti tes buta warna, cek kesehatan, golongan darah, serta pengukuran jas almamater.

Di tes buta warna, aku ditunjukkan bintik-bintik aneka warna dengan background gambar tertentu. Alhamdulillah lulus, tapi yang tidak mengenakkan adalah pengetesnya perempuan jutek. Sedangkan pada tes kesehatan dan golongan darah, ku temui wanita-wanita ramah yang berlagak suster. Begitu pula dengan pemeriksaan golongan darah, ku jumpai pemandangan yang sama.

Ku terkaget-kaget dan bangga ketika ku ketahui ternyata golongan darahku B plus. Sebab seumur-umur, baru kali ini darahku diperiksa dengan disuntik ujung jarinya kemudian dipencet sedikit agar menetes di sebuah kartu kecil. Si suster lalu menyebarkannya dan ketahuanlah hasilnya. Anak-anak sebayaku sering mengungkapkan golongan darahnya satu sama lain bila berbincang, sedangkan aku hanya terperangah mendengarnya. Dan alhamdulillah hari ini aku benar-benar tahu golongan darahku. Sudah pede rasanya jika nanti ada siapapun mempertanyakannya pada diriku. Soalnya ku sering kebingungan bila ada yang nanya-nanya apa golongan darahmu.

Untuk selanjutnya ku diarahkan untuk pergi ke jurusan yang ku pilih, yakni Pendidikan Bahasa Jerman. Di sini ku dipertemukan dengan Ketua Himpunannya, Andris Susanto. Sosok yang ramah dan mangawali wawancarana padaku dengan senyuman. Di antaranya pertanyan-pertanyannya adalah menanyakan asalku, pernah aktif di organisasi apa, pendapatku tentang apa itu mahasiswa, kepemimpinan, perlukah mahasiswa berorganisasi atau hanya cukup mengejar akademik saja, sampai pada hal pribadi yaitu apakah aku sudah mendapatkan kosan belum di sini.

Ku jawab saja dengan pendapatku yang ku ketahui. Salah satu jawaban yang membuat ketua DSV itu kagum ialah ketika ku berikan jawaban mengenai masalah kepemimpinan. Ku katakan bahwa keadaan pemimpin itu tergantung keadaan rakyatnya. Jika rakyatnya saleh, maka akan dianugerahi pemimpin yang saleh juga. Jika keadaan rakyatnya rusak, maka pemimpinnya rusak juga. Coba kita lihat rakyat di zaman ke-khalifahan Abu Bakar dan Umar, rakyatnya saleh-saleh dan baik-baik kan? Makanya lahirlah pemimpin yang saleh dan adil pula seperti Abu Bakar dan Umar. Nah, jika kita ingin punya pemimpin yang baik, adil, dan saleh, kita harus perbaiki kondisi masyarakatnya dulu. Kita dakwahkan mereka tentang agar mereka menjadi baik.  

Sang ketua himpunan pun terkagum-kagum dengan jawabanku sehingga terlontar pujian dari bibirnya. Ia mengakui wawasanku luas juga. Tak sia-sia juga ku ikuti organisasi keislaman (ROHIS), organisasi politik, dan membaca-baca majalah keislaman waktu SMA dulu.

Usai berbincang-bincang dan berkenalan dengan jurusan kejermanan serta kakak-kakak senior, bertolaklah aku ke Masjid Al-Furqon UPI. Ku duduk-duduk di pelataran masjid guna menarik nafas sejenak setelah berlelah-lelah registrasi dan bertaaruf dengan jurusan perkuliahanku. Ku lihat-lihat sekelilingnya, masjid ini memiliki menara azan nan megah berwibawa, rerumputan hijau di tengah-tengah pelataran berbentuk yang tersambung dengan bangunan utama masjid. Di tempat ini banyak sekali difungsikan oleh mahasiswa-mashasiswi untuk berdiskusi mengerjakan tugas, istirahat, atau sekadar nampang.   

Sedang enak-enak santai dengan suasana baru dunia perkuliahan, datanglah seseorang dengan postur tinggi kurus, rambut keriting, dan memiliki logat khas Jawa. “Assalamu’alaikum, antum siapa namanya?”sapanya padaku dengan wajah ramah.

“Wa’alaikumussalam. Nama saya Muiz, jurusan Bahasa Jerman. Antum sendiri siapa?” tanyaku balik.

“Saya Yudi, dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Antum sudah dapat kosan belum?” tanya Mas Yudi.

“Belum. Saya baru beres registrasi Mas. Jadi belum sempat mencari kosan dan tidak tahu juga harus mencari kemana,” jawabku.

“Oh ya sudah. Ikut ke kosan saya saja, nanti bisa nyari-nyari di sana. Namanya Daerah Cipaku,” tawarnya padaku.

“Oh ya sudah Mas. Saya ikut saja karena saya belum tahu daerah-daerah sini,” sambutku.

Aku pun pergi mengikuti Mas Yudi ke kosannya di Cipaku. Butuh waktu sekitar enam atau tujuh menit perjalanan dari kampus. Sampai di kosannya yang lumayan besar ukurannya, ku disuguhi minum dan dipersilahkan untuk istirahat dulu. Ternyata satu kamar kosan ini dihuni oleh tiga orang, dia bersama dua temannya. Luar biasa ya, kataku dalam hati. Mungkin agar lebih hemat dan efisien keuangannya, mengingat mereka hanyalah mahasiswa.

 

Tak perlu Merasa Paling Berjasa

 

Saat khutbah jumat ketika itu sang khatib berujar, “Siapakah yang telah membuat orang-orang kantoran menggunakan jilbab, menegakkan shalat? Ketua parpol? Tokoh-tokoh politik?”

Sebuah ungkapan yang sedikit mengandung ‘kebencian’ terhadap kaum hizbi yang diucapkan oleh seorang da’i.

Tidak perlu lah kita merasa paling berjasa terhadap perubahan positif yang terjadi pada orang banyak (kaum muslimin).

Kita juga harus bisa melihat kebaikan/jasa orang-orang di atas seperti tokoh politik  atau anggota dewan (DPR) dari partai berbasis islam dalam beberapa hal :

a.     Siapakah yang telah meng-goalkan undang-undang atau perda berbasis syariah? Jawabannya tentulah mereka-mereka itu.

b.     Lalu siapakah yang menentang/menggagalkan usulan dari partai munafik agar LGBT dan Miras dilegalkan di negeri ini? Jawabannya tentu mereka lah orangnya.

 

Nah, dari sini kita bisa melihat bahwa mereka pun punya jasa besar terhadap negeri ini.

 

Rabu, 01 Mei 2024

Tiga Hal yang Menghapus Amal Saleh

 


1.   Ujub (Bangga Diri)

Janganlah kita merasa bangga karena sudah rajin salat malam. Janganlah kita merasa bangga karena sudah gemar sedekah. Janganlah kita merasa bangga dengan amal soleh apapun yang sudah kita lakukan. Karena hal itu dapat menghapus pahala dari amal-amal tersebut. Terlebih lagi kita merasa sombong mentang-mentang merasa sudah banyak beribadah. Waspadalah, hal itu dapat menghancurkan ganjaran dari semua ibadah yang pernah dijalankan.

 

2.   Tidak takut kepada Allah kala Sendirian.

Dikala bersama orang banyak, nampak soleh. Di tengah-tengah manusia kelihatannya baik. Akan tetapi, saat sendiri dia dengan bebasnya berbuat maksiat. Ketika sendiri, dengan senangnya berbuat dosa seolah-olah tidak ada yang mengawasi. Padahal penglihatan Allah subhanahu wataala meliputi segala sesuatu. Orang-orang saleh terdahulu justru sangat takut ketika menyendiri. Mereka banyak beristighfar (memohon ampun atas dosa) serta berlinang air mata.

3.   Kezaliman

Hendaklah kita waspada terhadap perbuatan zalim, seperti : meng-ghibahi (membicarakan) aib orang lain, menyakiti orang lain, bahkan menumpahkan darah orang lain. Sebab kesemua itu dapat menghapus kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan.

Kita tentunya sudah tidak dengan sebuah hadis yanga mengatakan bahwa orang yang bangkrut menurut Rasulullah shallallahualaihi wasallam adalah orang yang dengan membawa pahala segunung pada hari kiamat nanti. Namun, karena dia pernah menggunjing orang lain, menyakiti orang lain, merampas harta orang lain, bahkan menumpahkan darah orang lain. Maka orang-orang dizaliminya tersebut akan menuntut balas dengan meminta ganti rugi pahalanya. Apabila pahala-pahalanya sudah habis, maka dosa-dosa orang yang pernah disakitinya tersebut ditimpakan kepadanya. Sehingga dia pun jadi bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.

Jangan sampai kita termasuk apa yang Allah firmankan :”Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka amalkan, lalu Kami jadikan ia bagaikan debu beterbangan.” (Al-Furqan :23).

Debu yang beterbangan artinya sia-sia semuanya segala jerih payah amal saleh yang telah dikerjakan. Na’udzubillah min dzalik.

Ahad, Hujan Sepanjang Hari

 

Pagi itu, ku langkahkan saja kakiku menuju tempat kerjaku, yang tak lain adalah pesantren. Payung hitam dengan merk TK Al-Hidayah turut serta menyertaiku di tengah hujan. Ku pamit kepada anak istriku, berjabat tangan, dan diakhiri dengan ucapan salam.

Jalanan becek depan kontrakan ku lalui dengan susah payah. Kandang kambing kosong Ustaz Nazzar turut menjadi saksi. Rintik-rintik hujan menetesi payungku.

Tak butuh waktu lama, empat atau lima menitan sampailah aku di gerbang.

“Assalamu’alaikum,” ucapku kepada security yang berseragam hitam.

“Wa’alaikumussalam,” balasnya.

Ku samperi kran untuk mencuci kakiku yang kotor agar lantai perpus tidak kotor. Ku lihat Bang Irul sudah di kursi dengan tangannya memegang gajet di atas meja panjang.

Aku pun langsung mengambil komputer kebanggaanku untuk menulis apapun yang bisa ku tulis. Bosen menulis, aku mengambil kitab untuk ku baca. Bosen membaca, aku mendengarkan percakapan bahasa Inggris yang ku download di hp-ku. Aku ingin sekali bisa berbahasa Inggris dan kompetensi lain seperti menulis, menerjemahkan, dan membaca buku-buku berbahasa asing satu ini.

Selain itu, ku punya ambisi untuk melanjutkan S2 nantinya. Siapa tahu lima atau enam tahun yang akan datang ada kesempatan.

Mumpung masih luang, ku manfaatkan saja waktu ini untuk belajar dan belajar. Dalam hal ini mempelajari Bahasa Inggris dan selingan Bahasa Arab.

Zaman pembelajaran online ini, ku seringkali atau banyak bahkan memiliki waktu kosong. Mengingat aktivitas belajar-mengajar (KBM) hanya 40 menit sekali pertemuan, yakni di hari Sabtu dan Rabu. Waktu yang benar-benar yakni 80 menit dalam sepekan.

Kadang suka bingung untuk mengisi banyaknya waktu luang ini. Makanya suka minta petunjuk Allah, apa ya kegiatan lain untuk mengisi waktu ini?

Walau ku paksa-paksa saja dengan membaca, menulis, mendengarkan. Tetap saja masih tersisa waktu luang.

 

Empat Sekawan

 

Rabu siang itu Hanifah, Aisya, dan Satya sedang sibuk membersihkan kelas 5 sebab giliran merekalah jadwal piketnya. Bagi-bagi tugas pun mereka lakukan. Ada yang menyapu, ada yang mengangkat bangku, dan ada pula yang mengepel.

Ku samperin saja mereka di tengah kesibukannya, “Kok Asma, Khalisah, dan Shafa belum pulang? Mengapa masih di sini, kok yang piket ini ini aja (orangnya)?”

“Kan kita sudah akrab dari dulu ustaz, soalnya dari kelas satu kita memang sudah berbarengan,” jawab Shafa.

“Oh...begitu,” kataku sambil mengangguk takjub.

“Pantesan suka bersama mereka...,” kataku dalam hati.

Keakraban 4 sekawan ini memang tak terpisahkan oleh halangan-rintangan apapun. Di setiap tempat dan waktu kesetiakawanan pun tak lekang. Banyak anak dari sekolah luar yang berdatangan ke Sekolah Dasar Imam Nawawi, tapi hal itu tak mampu merenggangkan hubungan mereka.

Bagai perangko di setiap tempat dan kesempatan 4 sekawan ini terlihat lengket. Salut memang. Misalnya saat ada jam pelajaran olahraga, keempatnya terlihat berbarengan. Di acara renang sekolah, keempatnya tetap seiring-sejalan. Termasuk di acara-acara sekolah lainnya.

Walaupun demikian, Shafa, Asma, Khalisah, dan Asma tetap bergaul dengan teman-teman baru lainnya. Keempat anak ini tetap mau ngobrol, diskusi, bercanda dengan teman-teman barunya. Bahkan mereka pun sering duduk bersama anak lainnya di kelas.

Agar tidak terjadi geng-gengan, Ustaz Yusuf selaku guru Bahasa Arab biasanya meroling anak-anak akhwat agar duduk bergantian satu sama lain. Teman sebangkunya sering dibuat berbeda supaya saling mengenal serta dapat bergaul dengan siapa pun. Jangan sampai terjadi seperti di sekolah-sekolah luar, banyak anak membuat geng-geng tertentu di antara mereka yang dapat menyebabkan persaingan yang kurang baik, bahkan saling berselisih di anatara mereka.

Anak-anak harus dipahamkan bahwa sesama muslim itu bersaudara tanpa memandang rupa, derajat, keturunan, kekayaan, etnis, warna kulit, dan lain-lain. Tidak boleh pandang bulu dalam berkawan. Selama mereka satu ikatan iman, haruslah tetap bergaul dengannya. Kerena prinsipnya banyak relasi wawasan jadi luas, pertalian saudara di mana-mana, serta kelapangan rezeki biasanya mudah didapatkan. Walaupun sulit dipungkiri, yang namanya kecocokan hati atau chemistry umumnya memang terbatas. Kenalan kita boleh banyak, tapi yang bisa benar-benar akrab dan klop dengan hati kita itu sedikit. Seperti halnya 4 sekawan tersebut.