Setiap
orang sudah barang tentu mempunyai orang kepercayaan untuk dijadikan tempat
mencurahkan isi hatinya (curhat). Hal itu sangat penting sekali mengingat
manusia sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam memecahkan problematika
kehidupan yang sedang dihadapinya. Selain itu, sebab lain yang membuat manusia
berperilaku semacam itu adalah karena manusia itu sendiri adalah makhluk sosial,
seperti yang diutarakan oleh Aristoteles dalam teori zoon politicon-nya, yang menyatakan bahwa
menusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Terlebih
lagi Allah Azza wa Jalla telah menegaskan dalam firman-Nya dalam surah
al-Hujurat ayat 13 : “Hai manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di
antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.”
Penting sekali bagi
seorang hamba untuk mempunyai orang-orang yang dapat dipercaya dalam hidupnya.
Rasulullah Shallallahualaihi wasallam sendiri mempunyai sahabat dekat lagi
amanah seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan lain-lain. Presiden Soekarno
juga mempunyai seorang guru yang dipercayainya yaitu Al-Hasan (pendiri PERSIS),
Presiden SBY pun memiliki hal yang sama, beliau menunjuk Julian Aldrin Pasha
yang diamanahkan untuk menyampaikan info-info penting dari sang kepala negara
kepada rakyat.
Aku pun tidak ingin
ketinggalan, ku coba untuk mencurhatkan seluk-beluk perjodohan kepada tiga
orang yang ku anggap mumpuni. Mereka adalah senior-senior guru Bintang Pelajar,
di antaranya Mr. Ahmad, Ustad Abdurrahman, dan Bos Ifni.
Dalam hal memberikan
motivasi mencari jodoh Mr. Ahmadlah orangnya. Beliau pernah berujar kepadaku,
”Pak Zein, cepat-cepatlah
mencari pasangan hidup, kalau punya pendamping hidup itu lebih tenang Pak Zein,
bekerja menjadi lebih semangat karena sudah ingat pada anak-isteri, dan agama
Pak Zein menjadi sempurna dengan menikah.”
Ku hanya
mengangguk-angguk ketika mendengar ceramah mini sang mister dan ku resapi
nasihatnya yang lemah-lembut itu. Tak terduga, ghirohku pun mulai bangkit untuk
berusaha mencari pasangan hidup. Tetapi kebingungan masih membayangi pikiranku
mengenai tata cara untuk mengutarakan maksud tertentu kepada wanita yang
disukai.
Akhirnya ku datangi
Ustad Abdurrahman di ruang kerjanya siang itu. Sedang asyik-asyiknya beliau
mengerjakan tugas sebagai seorang guru, aku menyambanginya dan mengutarakan bagaimana
teknis pelaksanaan penyampaian maksud kepada akhwat yang disukai.
Beliau berpetuah kepadaku:”Mas,
antum coba buat janji ketemuan dengan akhwat yang antum sukai, kalau jawaban
akhwatnya bersedia, baru antum bisa sampaikan keinginan antum. Tapi akhwat
tersebut harus didampingi temannya, baik satu orang atau dua orang. Tidak boleh
antum ngomong berdua dengan dia, karena itu dilarang dalam agama. Begitu pula antum,
bila memungkinkan antum juga ditemani seorang ikhwan, jika tidak ya antum
sendiri juga gak apa-apa, asal akhwatnya ada kawan yang bersamanya.”
“Oke Pak, kalau begitu
saya akan coba,”jawabku.
Tiba-tiba Bos Ifni ikut
nimbrung di sela-sela obrolanku dengan pak ustad. Sang bos ikut berceloteh
:”Bos, ente harus percaya diri menghadapi akhwat, kita tu laki-laki, bakal jadi
pemimpin. Kalau seandainya ente ditolak, katakan dalam hati ente : Loe (akhwat)
bakal nyesel gak kawin ama gua, lihat aja nanti. Saya tu bos, pernah gagal
beberapa kali dulu, tapi ujung-ujungnya dapat juga selama kita masih
bersungguh-sungguh dalam berikhtiar. Oke bos, semangat…!! Jangan takut ditolak,
akhwat banyak, tinggal ente aja, mau sungguh-sungguh atau tidak nyarinya.”
Ku hanya tersenyum
simpul mendengar gaya bicara khas Lampungnya dan mencoba untuk merenunginya
dalam-dalam.
Dan Alhamdulillah,
sudah ku miliki gambaran yang cukup jelas mengenai dunia perjodohan. Dengan
niat yang lurus, ku akan coba mencari wanita yang akan menjadi target
sasaranku. Dengan cara yang ahsan, yang bersih, dan yang diridhai Allah wajib
ku lakoni dalam petualangan menundukkan hati bunga-bunga yang sedang kosong. Dengan
modal kepercayaan diri yang tinggi, tidak gentar akan rintangan, tidak surut
akan terjangan ombak, dan tidak takut akan tolakan dari sang dayang seyogyanya
ku praktekkan dalam memilih calon isteri. Insya Allah keluarga yang sakinah
(tenang), mawaddah (penuh cinta), wa rahmah (kasih-sayang) senantiasa
akan melingkupi nahkoda rumah tanggaku nanti.