Minggu, 29 September 2013

Tiga Konsultan Jodoh


Setiap orang sudah barang tentu mempunyai orang kepercayaan untuk dijadikan tempat mencurahkan isi hatinya (curhat). Hal itu sangat penting sekali mengingat manusia sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam memecahkan problematika kehidupan yang sedang dihadapinya. Selain itu, sebab lain yang membuat manusia berperilaku semacam itu adalah karena manusia itu sendiri adalah makhluk sosial, seperti yang diutarakan oleh Aristoteles dalam teori zoon politicon-nya, yang menyatakan bahwa menusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Terlebih lagi Allah Azza wa Jalla telah menegaskan dalam firman-Nya dalam surah al-Hujurat ayat 13 : “Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.”

Penting sekali bagi seorang hamba untuk mempunyai orang-orang yang dapat dipercaya dalam hidupnya. Rasulullah Shallallahualaihi wasallam sendiri mempunyai sahabat dekat lagi amanah seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan lain-lain. Presiden Soekarno juga mempunyai seorang guru yang dipercayainya yaitu Al-Hasan (pendiri PERSIS), Presiden SBY pun memiliki hal yang sama, beliau menunjuk Julian Aldrin Pasha yang diamanahkan untuk menyampaikan info-info penting dari sang kepala negara kepada rakyat.

Aku pun tidak ingin ketinggalan, ku coba untuk mencurhatkan seluk-beluk perjodohan kepada tiga orang yang ku anggap mumpuni. Mereka adalah senior-senior guru Bintang Pelajar, di antaranya Mr. Ahmad, Ustad Abdurrahman, dan Bos Ifni.

Dalam hal memberikan motivasi mencari jodoh Mr. Ahmadlah orangnya. Beliau pernah berujar kepadaku,

”Pak Zein, cepat-cepatlah mencari pasangan hidup, kalau punya pendamping hidup itu lebih tenang Pak Zein, bekerja menjadi lebih semangat karena sudah ingat pada anak-isteri, dan agama Pak Zein menjadi sempurna dengan menikah.”

Ku hanya mengangguk-angguk ketika mendengar ceramah mini sang mister dan ku resapi nasihatnya yang lemah-lembut itu. Tak terduga, ghirohku pun mulai bangkit untuk berusaha mencari pasangan hidup. Tetapi kebingungan masih membayangi pikiranku mengenai tata cara untuk mengutarakan maksud tertentu kepada wanita yang disukai.

Akhirnya ku datangi Ustad Abdurrahman di ruang kerjanya siang itu. Sedang asyik-asyiknya beliau mengerjakan tugas sebagai seorang guru, aku menyambanginya dan mengutarakan bagaimana teknis pelaksanaan penyampaian maksud kepada akhwat yang disukai.

Beliau berpetuah kepadaku:”Mas, antum coba buat janji ketemuan dengan akhwat yang antum sukai, kalau jawaban akhwatnya bersedia, baru antum bisa sampaikan keinginan antum. Tapi akhwat tersebut harus didampingi temannya, baik satu orang atau dua orang. Tidak boleh antum ngomong berdua dengan dia, karena itu dilarang dalam agama. Begitu pula antum, bila memungkinkan antum juga ditemani seorang ikhwan, jika tidak ya antum sendiri juga gak apa-apa, asal akhwatnya ada kawan yang bersamanya.”

“Oke Pak, kalau begitu saya akan coba,”jawabku.

Tiba-tiba Bos Ifni ikut nimbrung di sela-sela obrolanku dengan pak ustad. Sang bos ikut berceloteh :”Bos, ente harus percaya diri menghadapi akhwat, kita tu laki-laki, bakal jadi pemimpin. Kalau seandainya ente ditolak, katakan dalam hati ente : Loe (akhwat) bakal nyesel gak kawin ama gua, lihat aja nanti. Saya tu bos, pernah gagal beberapa kali dulu, tapi ujung-ujungnya dapat juga selama kita masih bersungguh-sungguh dalam berikhtiar. Oke bos, semangat…!! Jangan takut ditolak, akhwat banyak, tinggal ente aja, mau sungguh-sungguh atau tidak nyarinya.”

Ku hanya tersenyum simpul mendengar gaya bicara khas Lampungnya dan mencoba untuk merenunginya dalam-dalam.

Dan Alhamdulillah, sudah ku miliki gambaran yang cukup jelas mengenai dunia perjodohan. Dengan niat yang lurus, ku akan coba mencari wanita yang akan menjadi target sasaranku. Dengan cara yang ahsan, yang bersih, dan yang diridhai Allah wajib ku lakoni dalam petualangan menundukkan hati bunga-bunga yang sedang kosong. Dengan modal kepercayaan diri yang tinggi, tidak gentar akan rintangan, tidak surut akan terjangan ombak, dan tidak takut akan tolakan dari sang dayang seyogyanya ku praktekkan dalam memilih calon isteri. Insya Allah keluarga yang sakinah (tenang), mawaddah (penuh cinta), wa rahmah (kasih-sayang) senantiasa akan melingkupi nahkoda rumah tanggaku nanti.        

 

 

   

 

 

1 komentar: